Kita Membuat Jalan dengan Berjalan
Posted by EduwaUNJ on 13.18
RESENSI

Judul : We Make The Road by Walking. (Percakapan tentang Pendidikan dan Perubahan Sosial, Myles Horton dan Paulo Freire)
Penerbit : Transbook
Penerjemah : Hendro Prasetyo
Tahun Terbit : Desember 2011
Tebal Buku : 183 halaman
Judul : We Make The Road by Walking. (Percakapan tentang Pendidikan dan Perubahan Sosial, Myles Horton dan Paulo Freire)
Penerbit : Transbook
Penerjemah : Hendro Prasetyo
Tahun Terbit : Desember 2011
Tebal Buku : 183 halaman
oleh: Kurnia Ismi T*
Synopsis
We Make the Road by Walking adalah sebuah buku ber genre pendidikan. Dengan sampul biru muda dan karikatur kedua tokoh di halaman muka, buku ini cukup eye-catching untuk menarik minat pembaca. ‘Buku yang berbicara’ adalah salah satu jenis buku yang dikonsumsi para penikmat karya Freire dalam mengikuti karya – karyanya. Buku ini merupakan ‘buku yang berbicara’, antara dua tokoh pendidikan yang menginspirasi, yaitu Myles Horton dan Paulo Freire. Terdiri dari enam bab yang dimasing – masing bab nya terdiri dari minimal satu bahasan yang disusun secara rapi mengikuti garis perkembangan sejarah masing – masing kedua tokoh.
Dalam bab pembukaan, dijelaskan apa yang dimaksud dengan “We Make the Road by Walking”. Kemudian, mereka menjelaskan bahwa tujuan pembuatan buku yang berbicara versi mereka adalah pengabadian gagasan tentang pendidikan dan perubahan sosial. Karena tak dipungkiri kemungkinan tenggelamnya gagasan dan pemahaman gerakan seiring dengan pergantian generasi dan gejolak sosial yang berubah – ubah.
Di bab-bab selanjutnya, pembaca akan dituntun untuk menyelami masa – masa dan kisah deskriptif dari kedua tokoh yang kemudian dari pengalaman tersebut, mampu menginspirasi gerakan mereka. Dan pada pertengahan, dikemukakanlah gagasan bagaimana menjadi seorang pendidik yang dibutuhkan, dalam kondisi apa, dan hakikat pendidikan dalam pembangunan bangsa. Karena ternyata, pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia senantiasa terpaut pada politik dan sosial, demi pembangunan dan kesadaran masyarakat yang menuju tingkat kesejahteraan.
Di bab Refleksi, ditutup dengan indah oleh puisi karya Lao Tse, 604 SM yang dibacakan oleh Myles.
“Pergi dengan rakyat. Belajar dari mereka. Hidup bersama mereka. Mencintai mereka. Mulai dengan apa yang mereka tahu. Bangun dari apa yang mereka punya. Namun pemimpin terbaik adalah ketika kerja selesai, saat tugas terlaksana, rakyatnya berkata kamilah yang mengerjakan semuanya.”
Opini
Dengan format dialog, buku ini memiliki ciri khas tersendiri dan nilai tambah yang menurut saya konsisten dengan prinsip seorang pendidik. Yaitu : bukan menuang informasi, melainkan menuntun cara berpikir orang lain. Pepatah “Pengalaman adalah guru yang paling baik” terasa teraplikasikan dengan baik saat penyampaian kisah inspiratif mereka.
Dialog dan bab yang terstrukutur dengan rapi sesuai runtutan waktu memang membuat pembaca berfikir, “oo jadi ini yang membuat ia berpikir seperti itu”.
Di tangan Hendro Prasetyo, buku ini sudah cukup baik diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Meskipun masih ada bagian – bagian yang belum atau tidak ditemukan padanan katanya, sehingga dialog yang terjadi terasa tidak tek-tok. Karena diyakini bahwa penerjemahan yang baik adalah teks yang tak terasa bahwa itu merupakan hasil terjemahan.
Myles dan Paulo menawali pembicaraan dengan indah. Dimulai dari masa kecil mereka, religius, kemudian kecintaan mereka terhadap sesuatu proses yang berhubungan dengan teks, yaitu Membaca. Kontribusi mereka terhadap rasisme dan pendidikan popular di Amerika tak dapat dipungkiri kehebatannya. Mereka menuntun pembaca untuk memahami situasi dan kondisi mereka saat membuat keputusan – keputusan penting atau saat bereksperimen.
Keindahan menjadi seorang pendidik terasa tergambar jelas saat Myles mengemukakan kisah guru muda, Bernice. Kesadaran akan terbatasnya tangan yang telah biasa merengkuh mereka yang tak tergapai terpapar jelas saat Myles bercerita di bab Refleksi. Pun, cinta Eliza yang menguatkan seorang Paulo Freire terdeskripsikan dengan indah dalam kisah penuh kenangannya yang masih sedikit dibalut rasa berkabung atas meninggalnya istri yang dicinta.
Namun, diatas semua itu, saya paling memperhatikan saat Myles dan Paulo kompak menyatakan bahwa sebagai pendidik ataupun pembelajar, kita tak bisa menyuapi atau menggunakan bahasa kita sendiri untuk menyentuh rakyat. Tulisan yang bersifat estetis, seperti bahasa dalam novel atau puisi pun tak masalah bila tujuannya adalah akademis. Tidak semestinya apapun yang berbau ilmiah harus sulit dicerna dan dikemukakan secara rumit. Jika kita memang benar – benar mau meyentuh rakyat, ingat dan aplikasikan baik – baik puisi Lao Tse diatas.
Bila resensi biasa ditutup dengan nilai dari si penulis. Kali ini tidak, karena Saya akan belajar menuruti saran Myles. Berhenti bersikap seperti seorang ahli. Saya kembalikan penilaian pada pembaca resensi ini..
Dalam ‘Perbedaan antara pendidikan dan mengorganisir’
"Pendidik jangan berlaku seperti seorang ahli. Seorang organisator, kekuatan utamanya, menjadi seorang ahli.”( Myles Horton)
*Mahasiswi Sastra Inggris 2010 Universitas Negeri Jakarta