• AYO BACA

    Berbagi inspirasi dari buku yang kamu baca. Kamu adalah apa yang kamu baca.

    Read More
  • Hentikan UN

    banyak permasalahan pendidikan mulai dari budaya kecurangan para pelaku pendidikan, kastanisasi mata pelajaran, mistisisme pendidikan, serta reduksi sekolah menjadi sekadar bimbingan tes.

    Read More
  • #KE8

    Kuliah virtual seputar pendidikan. Sarana berbagi gagasan dan diskusi setiap malam minggu pukul 20.00. Follow twitter dan facebook kami.

    Selengkapnya
  • Petisi Tolak TIK Dihapus

    “Anak TK dan SD saja sudah bisa internetan…” TIK / KKPI bisa integratif (terintegrasi) dengan mata pelajaran lain Pembelajaran sudah seharusnya berbasis TIK (alat bantu guru dalam mengajar), bukan TIK/KKPI sebagai Mata Pelajaran khusus yang harus diajarkan

    Read More
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

"3 Hari Revolusi Diri, 3 jam Mengabdi, selamanya Menginspirasi "

Teringat sosial project yang pernah saya lakukan tahun 2011 dengan teman teman Departemen Pendidikan Badan Ekseskutif Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, disebuah sekolah Dasar di daerah Ciawi, Bogor Jawa Barat. Kami saat itu melakukan pelatihan untuk calon kader kader aktivis pendidikan dalam agenda Training education Reform, ada yang menarik disini namun bukan pelatihannya, menrutku pelatihan tetaplah pelatihan, yang ada hanya materi, pencapaian motivasi serta pengenalan panitia panitia kemudaian pengenalan organisasi penyelengara, tapi disini ada yang istimewa, disini saya melihat masa depan Indonesia.
Lantas, bagaimana bisa hanya dengan sebuah kegiatan sosial project yang hanya 3 hari kita mampu melihat masa depan indonesia, ada yang istimewa, Dalam sebuah ekspresi senyuman, tawa, canda serta cerita anak anak itu saya merasa adanya sebuah kekuatan besar, mimpi mimpi mulia dan saya melihat masa depan indonesia. Tentu kita semua sepakat, bicara mengenai mimpi tentu semua orang tau mimpi itu apa karena faktanya setiap orang bermimpi dan mempunyai Impian untuk kehidupannya. Dan disinilah kekuatan impian itu mengetarkan hati saya.
"Saat hati ini tersentak akan Impian"
“ka, aku mau jadi dokter .!!!, aku mau jadi Presiden , aku mau jadi Guru , aku polisi ka !! aku mau jadi tentara supaya bisa ikut perang biar Negara Indonesia aman, kalau aku mau jadi kyai, supaya bisa ngajar ngaji ka !!”, teriakan anak anak yang sangat antusias, dengan berbagai ekspresi, mualai dari ada yang tertuduk malu sampai berani mengangkat tangan setinggi-tingginya dalam kelas saat saya dan teman-teman menanyakan apa cita-cita mereka.
Hati bertanya dalam diri, dulu saya tak seperti ini, semangat mereka mengetuk pintu hatiku dengan keras dan membuat saya bertekad memberikan hal terbaik selama saya ada bersama mereka, kami disana memperenalkan diri, bermain dan belajar bersama, hingga saya melupakan backgruond pendidikan saya sebagai Mahasiswa Fakultas Teknik,karena saya sangat menikmati ada ditenggah keberadaan mereka, walau hanya kurang lebih hampir 3 Jam bersama mereka namun ada kenangan yang pasti tersimpan di memori otak kanan saya untuk selalu mengenangnya.
Entah apa karena pikiranku saja atau memang benar, saya merasa waktu berputar terlalu cepat saat saya berada menghabiskan hentakan waktu tiap detiknya, rasanya ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengam meraka. Ada yang membuat saya sedih disana,walau tak ada yang tau, karena saya menutupi ini dari rekan rekan saya disana, walau harus menahan aliran air mata namun hati ini tetap sedikit tersiksa. "Kakak jangan pergi, kakak ngajar disini aja" ujar polos seorang anak bernama fajar, dengan senyum dan menahan tangis saya pun menjawab, “Insya Allah nanti kakak datang kesini lagi ya, kamu jadi anak baik baik dan berusaha ya lanjutkan mimpi kamu jar”, berat hati memang menginggalkan anak istimewa ini namun tugas saya telah usai, dan inilah yang membuat hati saya tersentak dan membuat komitmen, untuk terus membantu anak anak negeri agar berani merajut mimpinya.
Jadi yakinlah akan kekuatan Mimpi,manfaatkan waktumu , karena TERadalah Tempat TERbaik untuk melihat Impian impian TERtunda anak Indonesia . "3 Hari Revolusi Diri, 3 jam Mengabdi, selamanya Menginspirasi " karena ketika kalian mengabdi dengan Hati walaupun cukup singkat dalam waktu 3 Jam, itu cukup dan mampu menginspirasi untuk mewujudkan Mimpi anak Negeri.

Minggu, 18 November 2012

Refleksi : Ilmu Bukan Monopoli Sekolah


Menurut KBBI,
“ilmu adalah pengetahuan ttg suatu bidang yg disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yg dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu”
“Monopoli Adalah situasi yg pengadaan barang dagangannya tertentu (di pasar lokal atau nasional) sekurang-kurangnya sepertiganya dikuasai oleh satu orang atau satu kelompok, sehingga harganya dapat dikendalikan”
Berdasarkan definisi tersebut, dapat diartikan “Ilmu Bukan Monopoli Sekolah” yaitu suatu pengetahuan tidak hanya didapatkan atau diadakan dari sekolah.
Di dalam artikel disebutkan bahwa awalnya kebanyakan siswa menganggap bahwa suatu pengetahuan hanya didapatkan dari satu sumber yaitu sekolah. Namun, ada juga beberapa siswa yang berpikiran bahwa kurikulum tidak dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata.
Pandangan mengenai sekolah sebagai sumber utama pengetahuan berubah ketika siswa diajak menemui orang desa dengan pendidikan yang tidak terlalu tinggi tapi mampu membuat dan mengolah pertanian. Dari sinilah mereka menyadari bahwa sebenarnya pengetahuan tidak hanya bisa didapat dari sekolah namun juga dapat diperoleh dari orang orang desa yang mungkin menurut mereka tidak berpendidikan tinggi namu kenyataannya dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Tapi masih ada juga siswa yang berpandangan , untuk apa pergi jauh-jauh mendaki gunung hanya untuk memetik teh.
Sekolah bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan. Pengetahuan dapat diperoleh dari beberapa sumber atau bersifat jamak. Terkadang apa yang diajarkan di sekolah tidak didapatkan di luar sekolah juga sebaliknya kita dapat belajar dari hal di luar sekolah tetapi pelaksanaan pendidikan tidak terdapat dalam kurikulum sekolah.

-septisetiyawati-

Refleksi : Watak Tiran Sekolah

Summary : Subbab ini menunjukkan keluh kesah dari sudut pandang siswa dalam suasana kelas. Kelas yang kompetitif sehingga
bersuasana serius, guru yang berperilaku seperti satu – satunya sumber, dan
monoton yang terjadi dalam ruang kelas. Semua hal tersebut adalah akibat dari
sekolah yang bersikap selayaknya tiran.

Opini: Tiran dalam kbbi adalah

ti·ran n
raja atau penguasa yg lalim dan sewenang-wenang (biasanya memperoleh kekuasaan
dng jalan kekerasan):
tidak seorang rakyat pun merasa
tenteram di bawah kekuasaan seorang --
ti·ra·ni n 1 kekuasaan yg digunakan
sewenang-wenang; 2 negara yg diperintah oleh seorang raja atau penguasa yg bertindak
sekehendak hatinya:
di bawah pemerintahan yg
bersifat -- , kedaulatan rakyat akan hilang 

Karena tiran dalam hal ini adalah kata benda, saya
pikir tiran ini lebih merujuk pada sosok guru sebagai pengajar. Meskipun kita
tahu bahwa guru bukanlah satu – satunya yang berkuasa dalam pendidikan dalam
sekolah. Dari beberapa keluh kesah yang dipaparkan dalam subbab tersebut, saya
menyimpulkan beberapa point.

1.   
Hubungan
guru-murid yang salah.

2.   
Matinya
kesadaran kritis.

3.   
Encouragement
vs discouragement.


Pendidikan
kritis (critical pedagogy) adalah besutan Jurgen Habermas, Theodore W Adorno
dkk saat zaman pencerahan, atau aufklarung.
Pendidikan kritis mengusung kesadaran kritis sebagai alat untuk melawan system
pendidikan yang disalahgunakan oleh pihak posisi atau superior demi kepentingan
pribadi atau kelompok demi mencapai pendidikan yang lebih baik. Pendidikan
kritis menjunjung proses pendidikan yang harusnya kembali lagi kepada
masyarakat, bukan untuk kepentingan mempertahankan status quo dalam suatu
hegemoni perpolitikan suatu Negara. Walaupun diakui bahwa pendidikan berpotensi
membangun sistem perpolitikan yang benar – benar menjunjung dari rakyat, untuk
rakyat dan demi kesejahteraan seluruh rakyat.

Dalam
Mazhab
Pendidikan Kritis dijelaskan bahwa kesadaran terbagi menjadi tiga jenis, yaitu kesadaran magis, kesadaran naïf, dan kesadaran kritis. Kesadaran magis
adalah kesadaran tentang pemahaman bahwa segala yang terjadi di dunia ini
adalah magis. Mengutamakan dan menyalahkan Tuhan sebagai penyebab segala hal.
Kesadaran naïf adalah kesadaran dimana masyarakat telah mampu membedakan mana
yang terjadi secara alamiah dalam konteks religinya dan mana yang terjadi akibat
ulah manusia serta proses perpolitikannya. Namun, kesadaran naïf tidak
melakukan gebrakan untuk membimbingnya dalam membuat perubahan ataupun
pengembangan peradaban. Kesadaran kritis adalah kesadaran yang mempertanyakan
segala sesuatunya dengan maksud mengubahnya menjadi yang lebih baik.


Dari
subbab diatas, kita telah mengetahui perasaan seorang murid yang merana setelah
hanya dapat disuapi informasi atau pengetahuan dari gurunya sendiri. Ia tidak
memiliki kesempatan untuk mencoba menyampaikan pendapatnya yang mungkin
berbeda. Bila ia mencobanya atau nekat menyatakan pendapatnya, masih sering
terjadi kasus penghukuman baik secara fisik maupun psikis. Hukuman yang
diterima oleh si calon kritis ini bisa sangat mengecilkan hatinya atau justru
membuatnya makin beringas mengajukan dan menyampaikan aspirasinya.

Guru
dalam kasus diatas merasa dirinya adalah center (pusat) dari pengetahuan. Ia
merasa hubungannya dengan murid adalah antara subyek dan obyek. Dimana murid
hanya harus mendengarkan dan mencerna pengetahuan yang telah ia persiapkan
sendiri. Semua harus seragam (uniform), termasuk dalam menyerap ilmu
pengetahuan, antara proses dan outputnya. Tentu saja hal - hal semacam ini
ditolak oleh mazhab pendidikan kritis (critical pedagogy), karena berpotensi
mematikan kesadaran kritis seorang murid.

Keseragaman
dalam pembelajaran juga ditolak oleh seorang praktisi multiple intelligence dan
holistic learning ternama, Ayah Edi. Ia berpendapat bahwa setiap anak memiliki
kurikulumnya masing – masing. Kita tidak bisa dan tidak pantas menyeragamkan
warna mereka sesuai keinginan kita. Every child is special, kata Amir Khan.

Hubungan
yang salah antara guru dan murid harus segera diluruskan. Antara proses dan
hasil haruslah berkaitan, tidak bisa dipisahkan. Maka, pemahaman hubungan
subyek-obyek antara guru dan murid harus segera diganti dengan subyek-subyek.
Karena dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan, guru dan murid haruslah memiliki
jalur yang sama, yaitu pembelajar. Bila hanya satu sisi yang menuangkan air
pada sisi yang lain, namanya bukanlah belajar, melainkan transfer.

Multiple
Intelligence besutan Horward Gardner dapat menjadi acuan cara mengajar yang
baik. Multiple Intelligence lebih mengutamakan bagaimana cara mengajar tanpa
harus menjadi center atau pusat dari pengetahuan. Karena tanpa kita sadari,
guru dan murid adalah sama – sama pembelajar. Multiple Intelligence
mengedepankan pengajaran sesuai dengan beberapa kecerdasan alamiah yang
dimiliki seorang anak.

Namun,
untuk menerapkan Multiple Intelligence harus didukung dengan system yang baik
dan sudah sepenuhnya siap. Bila belum tercipta system yang semacam itu, demi
pendidikan dalam ruang kelas yang lebih baik,
pengajar atau calon pengajar dapat memengubah paradigm berfikirnya mulai
dari sekarang. Yaitu dengan menghargai idea tau pemikiran murid yang mungkin
saja berbeda dari main stream. Karena sudah selayaknya seorang guru membantu
berkembangnya kedewasaan dan kekritisan berfikir siswanya. Dengarkan mereka,
bimbing mereka, hargai pendapat dan upaya kerasnya. Bukan discouragement
(mengecilkan hati), melainkan encouragement (mendorong).

kesimpulannya adalah, hubungan guru - murid yang salah (subyek - obyek) berpotensi mematikan kesadaran kritis pembelajar yang tanpa disadari bukannya membangun (encourage) justru mengecilkan hati (discourage). Solusi yang saya sarankan adalah, mulai dari diri sendiri dalam menghargai pemikiran orang lain, dan terapkan sikap saling membangun dan bereksplorasi dalam belajar bersama. Semangat para calon guru!!

-KIT-

Refleksi Seorang Mahasiswa Saat Menjadi Siswa



Pagi itu Rabu, 10 Oktober 2012 pria separuh baya masuk ke salah satu kelas dalam lorong Jurusan Teknologi Pendidikan. Di dalamnya saya beserta beberapa teman sudah duduk manis sekitar 15 menit sebelumnya. Pria itu mengenakan kemeja safari ungu berfotif kotak-kotak ala gubernur DKI. Disitulah bergantung sebuah nametag bertuliskan Cecep Kustandi, salah satu dosen di jurusan kami.
Saya dan teman-teman kali ini lebih antusias daripada kuliah-kuliah sebelumnya. Teman sebangku saya, Berkah Citra Azaria hingga tertegun mendengarkan celotehan dosen. Kali ini memang sangat berbeda, Dosen mengawali kuliah dengan sebuah pertanyaan yang cukup menekan otak. “Seandainya kalian mulai hari ini jadi menteri pendidikan, apa yang akan kalian lakukan?”, tanya dosen berambut klimis itu. Serentak beberapa mahasiswa mulai menggaruk-garuk kepala.
“Silahkan kalian tulis jawaban kalian dalam secarik kertas!”, lanjutnya. Saya kemudian menarik selembar kertas dari binder, kemudian meminjam pulpen dari salah satu teman berperawakan putih sebut saja namanya Dyna. Kebetulan pagi itu pulpen saya tertinggal di rumah. Kertas siap, pulpen ada. Sekarang giliran otak saya yang berfikir apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini. Saya teringat fotokopi Mal Education ala Indonesia. Sebenarnya fotokopian ini sudah saya terima seminggu sebelumnya, tapi saya baru baca fotokopian saat itu dimana otak saya mulai menguap gara-gara pertanyaan dosen yang imajiner itu. Mau gak mau ya harus baca!
sekilas fotokopian ini terlihat kurang menarik pada awalnya, tidak berwarrna, tidak ada pula gambar-gambar menarik seperti komik doraemon yang sering saya baca di saat senggang. Di tengah fotokopian tertulis di pojok kanan bawah halaman 81, ada tulisan besar berjudul “TERASING DI SEKOLAH”.
Iseng-iseng berhadiah saya mulai membaca kata demi kata dalam paragraf yang membosankan ini. Jangan marah dulu ya! Memang saya orangnya paling malas membaca. Ada kutipan yang membuat saya tertarik di halaman berikutnya, masalah pendidikan di Indonesia adalah betapa kakunya pelajaran di sekolah, sehingga:
“Di tempat itu saya mengetahui kalau pelajaran yang selama ini saya dapatkan terlalu ideal untuk diterapkan dalam kehidupan nyata”
Ini “GUE BANGET!”. CIUSS! MIAPAPUN ! Dari SD, SMP SMA saya merasakan hal itu. Sekolah saya hanya mengkodisikan siswanya agar dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar sekolah, bukan dengan lingkungan luar. Apalagi dari dulu saya sekolah di negeri terus, super duper kaku kurikulumnya. Guru gak bisa tuh yang namanya bikin inovasi, nanti malah dikira keluar dari jalur kurikulum. Dari dulu saya mengidam-idamkan guru yang bisa membimbing bukan mendikte tapi sayangnya itu tidak pernah saya temukan hingga lulus SMA.
Kutipan singkat diatas mengingatkan saya kejadian 6 tahun lalu saat saya SMP. Pagi itu guru menagih tugas IPA yang sudah diberikan sehari sebelumnya. Kalau tidak salah materinya “gaya dan pesawat sederhana”. Guru Fisika tulen berbama Asep itu menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan menuliskan rumus untuk soal nomor 2. Jarinya menunjuk ke arah wajah saya, sayapun “terpaksa” maju dengan keringat di jidat.
Angka, kali bagi, dikuadratkan, dikurang, dikali lagi sama dengan dan happp munculah hasilnya. Pak Asep mulai memakai kacamata barunya dan menelisik setiap angka yang saya tulis di whiteboard. “Reza, kamu dapat rumus ini dari mana?”, tegur pak Asep. “ Dari buku teman pak ditambah saya iseng utek2 sendiri, soalnya di LKS yang biasa dipakai tidak lengkap pak”, jawab saya. Pak Asep mulai melihat-lihat lagi apa yang saya tulis, sambil menaikan kacamata ke jidat beliau berkata, “Isinya sudah BENAR, tapi RUMUSNYA gak sama dengan yang bapak ajarkan”.
Padahal saat itu RUMUS SAYA LEBIH SINGKAT daripada yang dianjurkan oleh guru itu. Dari kenangan ini dapat saya simpulkan:
PENDIDIKAN di INDONESIA saat ini SANGAT KAKU, siswa tidak diizinkan memodifikasi dan mendalami apa yang sudah didapatkannya disekolah.
DERITA berlanjut ketika saya masuk jurusan IPS saat SMA. Setiap hari kami hanya dicekokan dengan rumus ekonomi dan teori-teori ekonomi tanpa kami tahu UNTUK APA RUMUS ITU? Dan TEORI ITU SUDAH TERLALU MASUK AKAL, tanpa saya belajarpun saya sudah tau teori-teori itu lewat pengalaman yang saya alami dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya, tertulis dalam buku “apabila harga naik maka permintaan akan berkurang, dan titik impas (Equilibrium) tercapai bila pendapatan sudah menambal modal.” BUKANKAH INI SANGAT BERBAU LOGIKA?
Menurut guru ekonomi, SISWA AKAN SUKSES atau KAYA apabila BISA MEMPRAKTIKAN TEORI dan RUMUS EKONOMI dengan BENAR. Padahal saya sering melihat para pengusaha sukses yang tidak lulus SMP namun bisa membuka cabang restoran di berbagai daerah. Catatan kedua:
“Guru tidak melatih siswa untuk berfikir kritis, praktis, dan kreatif padahal 3 unsur tersebut adalah kunci kesuksesan para pengusaha. Guru selalu menyajikan teori-teori yang akhirnya hanya mengantarkan pikiran siswa agar HANYA MENJADI SEORANG PEGAWAI.”
Kembali ke masa sekarang, saya melanjutkan membaca fotokopi yang diberikan ketua Education Watch UNJ itu. Salahsatu paragraf menjelaskan pendidikan di Indonesia menganggap PELAJARAN YANG DIBERIKAN GURU lebih penting daripada PELAJARAN DALAM KEHIDUPAN. Paradigma ini membuat saya yang mulai agak ngerti soal pendidikan terkejut betapa MAL PRAKTEK nya pendidikan di Indonesia.
Bukan saya sombong nih, Cuma sekedar share aja. Dulu waktu saya SMA pernah ikut OSN Geografi walau Cuma sampai tingkat provinsi. Terlihat saat pelatihan di sekolah, guru-guru memisahkan calon peserta OSN dengan siswa yang tidak ikut OSN. Bahkan setiap peserta OSN saling siku-menyikut walau kami satu sekolah.
Guru terlalu membudayakan KOMPETISI daripada KORPORASI. Hasil dari budaya ini mulai terlihat ketika kami SMA kami dikalahkan oleh SMAN 28 Jakarta (SMA langganan pemenang OSN). Walau SMA kami sering gugur ditingkat provinsi, namun budaya buruk tersebut tidak pernah berubah.
Pada suatu kesempatan saya ngobrol-ngobrol dengan salah satu siswa SMAN 28, lelaki berkacamata slinder itu bernama Ferdinand. Ferdinand si langganan menang OSN Fisika.  Saya berusaha mengorek-orek resep rahasia SMAN 28 punya tradisi menang OSN. Jawabannya sangat singkat:
“Kami tuh selama pelatihan jarang banget ngerjain soal apalagi dengerin guru ceramah, kami lebih sering diskusi antar sesama peserta. Bahkan siswa yang gak ikut OSN juga ikut-ikut nimbrung pas pelatihan. Biasanya mereka juga memberikan ide-ide cemerlang yang tidak terpikirkan peserta OSN”
“Beda banget ya sama sekolah gw”, itu kalimat pertama yang terlintas di hati setelah mendengar resep rahasia itu.
=== JREEENNNGGG kita kembali ke KELAS TEKNOLOGI PENDIDIKAN=
Setelah bengong sekitar 15 menit, terlihat kertas didepan saya masih kosong, pak cecep kustandi mulai menggerutu, “Lama banget sih? Kalo jadi Menteri Pendidikan tuh harus bertindak cepat! 3 MENIT LAGI KUMPULKAN YA!!!
Akhirnya saya menulis kebijakan seandainya saya menjadi Menteri Pendidikan Nasional:
1.      Kurikulum berbasis Konstruktivistik harus dikembangkan karena PENDIDIKAN BUKAN SEKEDAR TRANSFER ILMU dari otak ke otak lainnya seperti transfer file pakai bluetooth. Melainkan siswa harus dirangsang untuk mencari pengalaman belajarnya sendiri, memahami masalah, dan memecahkannya,

2.      Kita harus membudayakan istilah seperti jargon 4SHARED, BERBAGI DAN MENGUNDUH. Proses dalam menerima pengetahuan bukan hanya berasal dari guru, saat ini guru dianggap adalah orang yang paling tahu daripada murid-muridnya padahal tidak demikian. Siswa dapat mendapat ilmu dari teman-temannya. Budayakan KORPORASI bukan KOMPETISI.

3.      Pelajaran lebih memanusiakan manusia, sesuai teori humanistik. Siswa bukan mesin yang tugasnya untuk diprogram untuk melakukan suatu pekerjaan. Siswa harus dikembangkan kreatifitasnya dengan program pengembangan minat dan bakat. (MRN)

Refleksi : Pemujaan Kompetisi

Gaya berpikir kompetitif sudah sangat erat melekat pada sistem persekolahan di Indonesia. Tujuan kompetisi yang di adakan untuk memicu dan memotivasi siwa agar lebih giat belajar, kini di salah artikan menjadi persaingan.  Kompetisi menjadi ajang persaingan antar para siswa. Dengan hasil akhir yang menang dan yang kalah.
Tujuan untuk mendapat dampak yang positif menjadi dampak negatif, karena siswa yang akan menang mendapat label menjadi anak yang hebat dan nomor satu karena mempunya otak yang cerdas dan bagi yang kalah, dia akan merasa bodoh, gagal, lemah dan sederet  keyakinan negatif pada dirinya .
Apalagi Kompetisi yang paling bergengsi yaitu ilmu pasti (mtematika dan ilmu pengetahuan alam)  . melihat kecenderungan lomba – lomba yang di adakan adalah ilmu pasti. Kompetisi ini mempunyai efek yang sangat besar.orang hanya memahami kecerdasan kognitif saja. Padahal setiap orang mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda seperti yang di katakan Howard Gardner.
Kecerdasan seseorang tidak bisa di batasi dengan tes tes yang formal saja. Melihat berbagai macam kompetisi yang di adakan dari sekolah, contoh yang setiap tahun kita lihat adalah menerima siswa yang memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi akan masuk sekolah favorit. Atau yang lulus ujian SNMPTN baru akan di terima di Universitas Ternama.
Seperti yang dikatakan Munif Chatib dalam buku sekolahnya manusia, kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak stastis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu bulan lagi, apalagi sepuluh tahun lagi. Dan menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Padahal, kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.
(DER)