• AYO BACA

    Berbagi inspirasi dari buku yang kamu baca. Kamu adalah apa yang kamu baca.

    Read More
  • Hentikan UN

    banyak permasalahan pendidikan mulai dari budaya kecurangan para pelaku pendidikan, kastanisasi mata pelajaran, mistisisme pendidikan, serta reduksi sekolah menjadi sekadar bimbingan tes.

    Read More
  • #KE8

    Kuliah virtual seputar pendidikan. Sarana berbagi gagasan dan diskusi setiap malam minggu pukul 20.00. Follow twitter dan facebook kami.

    Selengkapnya
  • Petisi Tolak TIK Dihapus

    “Anak TK dan SD saja sudah bisa internetan…” TIK / KKPI bisa integratif (terintegrasi) dengan mata pelajaran lain Pembelajaran sudah seharusnya berbasis TIK (alat bantu guru dalam mengajar), bukan TIK/KKPI sebagai Mata Pelajaran khusus yang harus diajarkan

    Read More
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 November 2012

Pendidikan : Integrasi antara iman, ilmu, dan amal


Judul : Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan
Penerbit : Pustaka Pelajar
Penulis : Drs. Abidin Ibnu Rusn
Tahun Terbit : cetakan I 1998, Cetakan II 2009
Tebal Buku : 144 halaman

rangkuman
oleh: Kurnia Ismi T*


Tokoh ini lebih terkenal dengan karya filsafatnya, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosuf) yang kontroversial dan menganggap mematikan kekritisan umat Islam.  Al-Ghazali dilahirkan pada masa munculnya mazhab – mazhab dalam ummat Islam. Pemikirannya termasuk fenomenal karena Ia
merasa manusia dilahirkan sudah dalam keadaan fitrahnya sebagai muslim, sedangkan orang tua serta lingkungannya lah yang membuat kita terkotak-kotak. Nasrani, Yahudi, Hidu, Budha, termasuk penganut aliran atau mazhab – mazhabntertentu. Begitulah profil singkat Al-Ghazali.

Al-Ghazali sendiri telah banyak menghasilkan karya – karya bermanfaat bagi khalayak. Salah
satunya adalah Ihya Ulumiddin, karyanya sebagai tokoh pendidikan. Al Ghazali menjalani profesi terakhirnya sebagai ahli pendidikan yang kurang banyak disorot oleh orang – orang. Ihya Ulumiddin kemudian menjadi dasar yang sebagian besar digunakan sebagai landasan pengulasan buku pemikiran tentang pendidikan menurut Al Ghazali ini.

Bab setelah pengenalan tokoh adalah pemikiran Al Ghazali tentang manusia, esensi, awal tercipta serta pengklasifikasiannya. Al Ghazali mengklasifikasikan manusia sebagai umum, khusus, dan khusussul khusus. Dalam penjelasannya dapat diinterpretasikan bahwa penggolongan tersebut adalah berdasarkan Islam. Tentang bagaimana seorang manusia memandang dunia dan membandingkan pemahaman mereka akan akhirat.

Kemudian penjelasan tentang Ilmu. Dalam Ihya Ulumiddin, al Ghazali membagi Ilmu menjadi tiga cabang yaitu:
Epistemologis: cabang ilmufilsafat tt dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan
Ontologis: cabang ilmufilsafat yg berhubungan dng hakikat hidup
Dan Aksiologis: 1 kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia; 2 kajian tt nilai, khususnya etika: (KBBI offline)

Dalam skema tersebut, terlihat bahwa Al Ghazali menghubungkan semua bidang ilmu hanya demi untuk kepentingan akhirat dan sesuai dengan kaidah Islami. Dalam bab selanjutnya, dipaparkan pemikiran Al Ghazali tentang pendidikan. Pengertian pendidikan menurut Al Ghazali adalah

“Proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna.” (Rusn 2009:56)

Dan tujuan dari pendidikan menurut Al Ghazali adalah untuk menjadi manusia shalih, menuntut ilmu hingga mencapai tingkat menyerupai malaikat dan tujuan jangka pendeknya adalah menjadi manusia yang bermanfaat di dunia.

SUBYEK DIDIK

Al Ghazali membagi subyek didik menjadi dua, yaitu Guru atau pendidik serta murid. Al Ghazali menerangkan bahwa sebagai guru, peran, kewajiban dan pahalanya lebih besar daripada orangtua. Karena orangtua adalah perantara seorang anak terlahir di dunia, sedangkan guru adalah perantara seorang anak mengenal dan berbekal diakhirat. Guru pun harus bersikap sebagai pengganti orangtua, bukan hanya orang asing yang dibayar untuk mentransfer ilmu semata. Karena kembali lagi pada tujuan pendidikan adalah demi mendekatkan diri pada Allah.

Murid dalam pandangan Al Ghazali mestinya seorang yang senantiasa tawadhu dalam belajar dan diajar. Bagai tanaman kering yang disiram oleh air yang menyejukkan, mesti senantiasa bersemangat dan sangat menjunjung tinggi seorang guru. Tawadhu dalam menuntut ilmu juga diartikan tidak somong terhadap ilmu yang telah dimiliki atau sedang dipelajari. Juga, seorang murid mesti senantiasa memiliki pemahaman dasar sebelum bertukar pendapat. Agar tidak seenaknya mendebat atau menyanggah apalagi menyatakan sesuatu adalah salah. Pemahaman dasar itu penting.

Memahami tujuan serta manfaat pengajaran dan pendidikan pun penting bagi murid, agar senantiasa lurus tujuannya, akhlakul karimah.

KURIKULUM PENDIDIKAN

                Al Ghazali menyayangkan system pendidikan yang menerapkan system sekuler. Pemisahan aturan agama dengan duniawi. Pendidikan saat ini yang berlaku di Indonesia juga seperti itu, menganut pragmatism John Dewey. Yang sebetulnya menguntungkan kaum kapitalisme dan tidak lain tidak bukan, hasil dari pendidikan saat ini adalah calon – calon pekerja. Bukan pemikir.

                Maka, Al Ghazali menyarankan suaatu system kurikulum yang kembali lagi menuju akhirat. Berpegangan pada dua peninggalan nabi besar Muhammad saw. Yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Al Ghazali meyakini bahwa manusia (ruh atau jiwa) pada awalnya adalah sama, akan senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Namun setelah menyatu dengan fisik, manusia menjadi berbeda – beda. Tidak bisa dan tidak boleh disamakan. Maka, berdasarkan HR Ibnu Hibban dari Anas bin Malik, Al Ghazali membedakan tahap tahap pembelajaran berdasarkan usia dan psikologis seorang manusia sejak usia: 0-6 tahun, 6-9 tahun, 9-13 tahun, 13-16 tahun serta 16 tahun keatas.

Seluruh tahap disesuikan dengan peran serta bimbingan orang tua, serta tahap pertanggungjawabannya dihadapan Allah nantinya.

                Terdapat empat bentuk pendidikan ala Al Ghazali, pendidikan akal, agama, akhlak, dan jasmani. Dengan menekankan pada pendidikan agama dan akhlak. Al Ghazali menekankan kurikulum yang berdasarkan Al Qur’an, yakni membaca, menghafal, memahami arti, dan mengkaji maksud. Maka Al Ghazali tidak memisahkan metode pendidikan seperti yang saat ini terjadi. Karena Al Qur’an memang tidak pernah memisahkan aspek satu dengan lainnya. System pendidikan yang terintegrasi.

                Al Ghazali juga menerangkan tentang evaluasi. Apa pentingnya evaluasi bagi pemimpin, subyek didik, wali murid, dan tenaga administrasi

Didukung oleh kutipan sebagai berikut;

Nabi Muhammad saw, bersabda: “Seyogyanya bagi orang yang berakal mempunyai empat bagian waktu, dan satu bagian waktu darinya digunakan untuk mengevaluasi dirinya”


Inti: Al Ghazali bukan hanya agli tasawuf, sedikit orang yang telah mengenalnya sebagai ahli pendidikan.  Ia dipahami memandang pendidikan dengan system integrasinya. Hal ini diterapkan dalam system pendidikan di pesantren. Integrasi antara iman, ilmu, dan amal. Ia juga mengkritik pemisahan yang dilakukan oleh pemikir – pemikir Barat yang berorientasi pada pragmatism. Hal yang justru memporakporandakan tujuan pendidikan sesungguhnya. Mendekatkan diri pada Allah.


Kesimpulan: Buku ini sangat padat, ringkas dan lengkap. Karena membahas secara detail dari awal mula, tokoh yang dibahas, pandangannya tentang manusia, pendidikan, aktualisasinya terhadap pendidikan dewasa ini.


Untukmu yang ingin tau lebih banyak asal – usul tercetusnya integrated learning, buku ini sangat direkomendasikan.


-pandang yang baik, tak usah terlalu dipusingkan yang tak dianggap benar
*Mahasiswi Sastra Inggris 2010 Universitas Negeri Jakarta

Minggu, 18 November 2012

MUHAMMAD, lelaki penggenggam hujan

RESENSI

Judul           : MUHAMMAD, lelaki penggenggam hujan
Penerbi       : Bentang Pustaka
Tahun terbit : Maret 2010
Pengarang   : Tasaro GK
Tebal          : 543 halaman
Genre         : Novel biografi






Setelah sukses dengan Galaksi Kinanthi, Tasaro kembali  membuat gebrakan dengan menuliskan novel biografi manusia paling berpengaruh nomor satu sedunia versi Michael Heart, Rasulullah, Nabi Muhammad saw. Keduanya memiliki kesamaan yang mirip, yaitu ulasan keyakinan tentang agama dan romantisme yang menjadi bumbu disela - selanya.
Nabi terakhir, nabi seulurh umat manusia, mengulas beliau, menulis beliau pastilah menjadi pengalaman spiritual tersendiri. Kita sendiri memahami, betapa banyak umat manusia yang mencintainya dengan sangat, hingga kesensitifitasan akan cinta itu sendiri terkadang membahayakan pemiliknya, jika cintanya tanpa hati. Maka, tak jarang ekspresi teman – teman saya yang melihat identitas genre yang disematkan diatas judul akan menaikkan alisnya. “Biografi? Nabi Muhammad?”. Saya rasa, itulah yang membuat Tasaro sendiri menuliskan puisi tentang ini di halaman terdepan setelah identitas.

Engkau pernah begitu khawatir
ketika aku memulai proyek ini.
“Bahaya, Le. Bagaimana kalau
kamu nanti dicerca orang – orang?” tanyamu.
Kujawab begini hari ini,
“Ibu, jika kelak ada orang yang salah paham
dengan terbitnya buku ini,
aku yakin itu terjadi
karena mereka mencintai Kanjeng Rasul.
Dan percayalah Ibu,
aku menulis buku ini disebabkan alasan yang sama.”

Sinopsis:
Kashva dilanda kegalauan yang sangat. Sang Pemindai Surga kesayangan Koshrou ini mengguncang istana Persia saat upacara pemberian hadiah di musim semi. Menurut Koshrou, bukan hadiah yang Kashva tunjukkan, melainkan pernyataan yang mengguncang tahta kekuasannya. Kudeta. Ancaman terhadap pemerintah. Maka Kashva yang tadinya di elu-elukan seantero Persia, berubah menjadi buronan nomor satu di negeri penyembah api, umat nabi Zardhust tersebut.
Itu semua karena penyataan Kashva yang menuntun khalayak pada dua hal: satu, pemurnian kembali ajaran Zoroaster, artinya kembali pada kitab – kitab yang diwarisi Zardhust. Dan kedua, penerimaan kemunculan nabi baru dari tanah Arab, yang diramalkan dari kitab – kitab sebelumnya berjulukan Fravashes, Bar Nasha, Malechha Darma, Astvat-ereta, Budha Maitreya, serta Periklitos.
Dua – duanya ditolak Koshrou. Jadilah Kashva dalam pelarian. Antara pencarian sosok nabi yang dijanjikan, hingga kegalauan iman nya akan ajaran Zardhust. Dilema yang dialami oleh seseorang yang mendalami kitab – kitab Tuhan.
Disaat yang bersamaan, Rasulullah menghadapi masyarakat Makkah dalam perang Uhud. Perang yang memilukan, yang membuat pamanda tercintanya berpulang dengan kondisi yang paling menyayat hati. Hamzah, jasadnya dirusak oleh Quraisy. Korban dari pihak Muslim pun sangat banyak.
Alasan cinta pada keimanannya, Kashva bermaksud mengembalikan ajaran Zardhust agar sang Fravesha tak menaklukkan tanah Persia, apalagi meruntuhkan bangsa tersebut. Tapi di satu sisi, jauh di lubuk hati, Kashva telah paham, sosok yang ditunggu – tunggu telah muncul di Arab. Ia yang dijanjikan oleh Tuhan untuk menumpas segala kemaksiatan, ketidakadilan, dan kecurangan.
Kemenangan Perang Parit lewat ide brilian seorang sahabat bernama Salman pun menjadi bukti kebenaran Muhammad sebagai Rasulullah. Karena di kitab Rag Weda, Indra pun membantunya. Indra yang didefiniskan sebagai dewa hujan dan angin, yang meluluhlantakan beribu pasukan Quraisy, pasukan yang berhasil memicu pengkhianatan Bani Quraizhah.
Di sela – sela perjalanan kaburnya, Kashva harus sambil menguak rahasia yang memisahkannya dengan seorang gadis cerdas, Astu. Akhirnya, dengan membawa anak Astu, Xerxes, dalam kelompok perjalanan hingga Tibet, Kashva dibingungkan oleh dirinya sendiri. Surat – surat dari teman diskusinya di berbagai belahan dunia mulai menyisakan tanda Tanya besar di dadanya. Dan masih belum terjawab.

Komentar:
Menghindari kesoktahuan, Tasaro tak menggelontorkan pernyataan saat mengisahkan perjalanan baginda Rasulullah saw. Melainkan pertanyaan, cenderung pertanyaan yang haus akan konfirmasi dari Baginda Rasulullah. Tasaro bak menulis surat cinta pada Muhammad putra ‘Abdullah, Lelaki Yang Lembut Hatinya. Setiap deskripsi detail penuh dengan subyektivitas yang tak sembarangan.
Insan yang mulia ini saja sudah pasti membuat siapapun yang mengenangnya mencintainya. Membaca novel biografi inipun diakui mampu membuat pembacanya tersipu malu, kesengsem, rindu pada sosok Rasulullah, nabi terakhir, Lelaki Yang Mampu Membeli Hati lewat hatinya.
Penggambaran sosok Kashva pun mampu membawa imajinasi pembaca sampai pada getaran hati dan kerisauan yang dialaminya. Betapa seorang penggiat ilmu seperti Kashva dibuat bimbang oleh ilmunya. Tasaro menerka bagaimana deskripsi cobaan bagi para pemikir dan cendekia pada zaman nabi yang mungkin terjadi di pelosok negeri.
Tasaro memikat pembaca lewat keindahan aksaranya, jernih sastranya, membuat berpikir untuk membaca lagi kalimat puitisnya untuk lebih dipahami. Walau kita akan bermain dengan persepsi yang rupa – rupa nantinya.
Maka saya nyatakan status buku ini dalam lemari koleksi buku anda adalah: high recommended.
(KIT)

Senin, 29 Oktober 2012

Kita Membuat Jalan dengan Berjalan

RESENSI


Judul : We Make The Road by Walking. (Percakapan tentang Pendidikan dan Perubahan Sosial, Myles Horton dan Paulo Freire)
Penerbit : Transbook
Penerjemah : Hendro Prasetyo
Tahun Terbit : Desember 2011
Tebal Buku : 183 halaman




oleh: Kurnia Ismi T*

Synopsis
We Make the Road by Walking adalah sebuah buku ber genre pendidikan. Dengan sampul biru muda dan karikatur kedua tokoh di halaman muka, buku ini cukup eye­-catching untuk menarik minat pembaca. ‘Buku yang berbicara’ adalah salah satu jenis buku yang dikonsumsi para penikmat karya Freire dalam mengikuti karya – karyanya.  Buku ini merupakan ‘buku yang berbicara’, antara dua tokoh pendidikan yang menginspirasi, yaitu Myles Horton dan Paulo Freire. Terdiri dari enam bab yang dimasing – masing bab nya terdiri dari minimal satu bahasan yang disusun secara rapi mengikuti garis perkembangan sejarah masing – masing kedua tokoh.

Dalam bab pembukaan, dijelaskan apa yang dimaksud dengan “We Make the Road by Walking”.  Kemudian, mereka menjelaskan bahwa tujuan pembuatan buku yang berbicara versi mereka adalah pengabadian gagasan tentang pendidikan dan perubahan sosial. Karena tak dipungkiri kemungkinan tenggelamnya gagasan dan pemahaman gerakan seiring dengan pergantian generasi dan gejolak sosial yang berubah – ubah.

Di bab-bab selanjutnya, pembaca akan dituntun untuk menyelami masa – masa dan kisah deskriptif dari kedua tokoh yang kemudian dari pengalaman tersebut, mampu  menginspirasi gerakan mereka. Dan pada pertengahan, dikemukakanlah gagasan bagaimana menjadi seorang pendidik yang dibutuhkan, dalam kondisi apa, dan hakikat pendidikan dalam pembangunan bangsa. Karena ternyata, pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia senantiasa terpaut pada politik dan sosial, demi pembangunan dan kesadaran masyarakat yang menuju tingkat kesejahteraan.

Di bab Refleksi, ditutup dengan indah oleh puisi karya Lao Tse, 604 SM yang dibacakan oleh Myles.
“Pergi dengan rakyat. Belajar dari mereka. Hidup bersama mereka. Mencintai mereka. Mulai dengan apa yang mereka tahu. Bangun dari apa yang mereka punya. Namun pemimpin terbaik adalah ketika kerja selesai, saat tugas terlaksana, rakyatnya berkata kamilah yang mengerjakan semuanya.”

Opini
Dengan format dialog, buku ini memiliki ciri khas tersendiri dan nilai tambah yang menurut saya konsisten dengan prinsip seorang pendidik. Yaitu : bukan menuang informasi, melainkan menuntun cara berpikir orang lain. Pepatah “Pengalaman adalah guru yang paling baik” terasa teraplikasikan dengan baik saat penyampaian kisah inspiratif mereka.
Dialog dan bab yang terstrukutur dengan rapi sesuai runtutan waktu memang membuat pembaca berfikir, “oo jadi ini yang membuat ia berpikir seperti itu”.

Di tangan Hendro Prasetyo, buku ini sudah cukup baik diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Meskipun masih ada bagian – bagian yang belum atau tidak ditemukan padanan katanya, sehingga dialog yang terjadi terasa tidak tek-tok. Karena diyakini bahwa penerjemahan yang baik adalah teks yang tak terasa bahwa itu merupakan hasil terjemahan.

Myles dan Paulo menawali pembicaraan dengan indah. Dimulai dari masa kecil mereka, religius, kemudian kecintaan mereka terhadap sesuatu proses yang berhubungan dengan teks, yaitu Membaca. Kontribusi  mereka terhadap rasisme dan pendidikan popular di Amerika tak dapat dipungkiri kehebatannya. Mereka menuntun pembaca untuk memahami situasi dan kondisi mereka saat membuat keputusan – keputusan penting atau saat bereksperimen.

Keindahan menjadi seorang pendidik terasa tergambar jelas saat Myles mengemukakan kisah guru muda, Bernice. Kesadaran akan terbatasnya tangan yang telah biasa merengkuh mereka yang tak tergapai terpapar jelas saat Myles bercerita di bab Refleksi. Pun, cinta Eliza yang menguatkan seorang Paulo Freire terdeskripsikan dengan indah dalam kisah penuh kenangannya yang masih sedikit dibalut rasa berkabung atas meninggalnya istri yang dicinta.

Namun, diatas semua itu, saya paling memperhatikan saat Myles dan Paulo kompak menyatakan bahwa sebagai pendidik ataupun pembelajar, kita tak bisa menyuapi atau menggunakan bahasa kita sendiri untuk menyentuh rakyat. Tulisan yang bersifat estetis, seperti bahasa dalam novel atau puisi pun tak masalah bila tujuannya adalah akademis. Tidak semestinya apapun yang berbau ilmiah harus sulit dicerna dan dikemukakan secara rumit. Jika kita memang benar – benar mau meyentuh rakyat, ingat dan aplikasikan baik – baik puisi Lao Tse diatas.

Bila resensi biasa ditutup dengan nilai dari si penulis. Kali ini tidak, karena Saya akan belajar menuruti saran Myles. Berhenti bersikap seperti seorang ahli. Saya kembalikan penilaian pada pembaca resensi ini..


Dalam ‘Perbedaan antara pendidikan dan mengorganisir’

"Pendidik jangan berlaku seperti seorang ahli. Seorang organisator, kekuatan utamanya, menjadi seorang ahli.”( Myles Horton)


*Mahasiswi Sastra Inggris 2010 Universitas Negeri Jakarta