RESENSI

Judul : MUHAMMAD, lelaki penggenggam hujan
Penerbi : Bentang Pustaka
Tahun terbit : Maret 2010
Pengarang : Tasaro GK
Tebal : 543 halaman
Genre : Novel biografi
Setelah sukses dengan Galaksi Kinanthi, Tasaro kembali membuat
gebrakan dengan menuliskan novel biografi manusia paling berpengaruh
nomor satu sedunia versi Michael Heart, Rasulullah, Nabi Muhammad saw.
Keduanya memiliki kesamaan yang mirip, yaitu ulasan keyakinan tentang
agama dan romantisme yang menjadi bumbu disela - selanya.
Nabi terakhir, nabi seulurh umat manusia, mengulas beliau, menulis
beliau pastilah menjadi pengalaman spiritual tersendiri. Kita sendiri
memahami, betapa banyak umat manusia yang mencintainya dengan sangat,
hingga kesensitifitasan akan cinta itu sendiri terkadang membahayakan
pemiliknya, jika cintanya tanpa hati. Maka, tak jarang ekspresi teman –
teman saya yang melihat identitas genre yang disematkan diatas judul
akan menaikkan alisnya. “Biografi? Nabi Muhammad?”. Saya rasa, itulah
yang membuat Tasaro sendiri menuliskan puisi tentang ini di halaman
terdepan setelah identitas.
Engkau pernah begitu khawatir
ketika aku memulai proyek ini.
“Bahaya, Le. Bagaimana kalau
kamu nanti dicerca orang – orang?” tanyamu.
Kujawab begini hari ini,
“Ibu, jika kelak ada orang yang salah paham
dengan terbitnya buku ini,
aku yakin itu terjadi
karena mereka mencintai Kanjeng Rasul.
Dan percayalah Ibu,
aku menulis buku ini disebabkan alasan yang sama.”
Sinopsis:
Kashva dilanda kegalauan yang sangat. Sang Pemindai Surga kesayangan
Koshrou ini mengguncang istana Persia saat upacara pemberian hadiah di
musim semi. Menurut Koshrou, bukan hadiah yang Kashva tunjukkan,
melainkan pernyataan yang mengguncang tahta kekuasannya. Kudeta. Ancaman
terhadap pemerintah. Maka Kashva yang tadinya di elu-elukan seantero
Persia, berubah menjadi buronan nomor satu di negeri penyembah api, umat
nabi Zardhust tersebut.
Itu semua karena penyataan Kashva yang menuntun khalayak pada dua
hal: satu, pemurnian kembali ajaran Zoroaster, artinya kembali pada
kitab – kitab yang diwarisi Zardhust. Dan kedua, penerimaan kemunculan
nabi baru dari tanah Arab, yang diramalkan dari kitab – kitab sebelumnya
berjulukan Fravashes, Bar Nasha, Malechha Darma, Astvat-ereta, Budha
Maitreya, serta Periklitos.
Dua – duanya ditolak Koshrou. Jadilah Kashva dalam pelarian. Antara
pencarian sosok nabi yang dijanjikan, hingga kegalauan iman nya akan
ajaran Zardhust. Dilema yang dialami oleh seseorang yang mendalami kitab
– kitab Tuhan.
Disaat yang bersamaan, Rasulullah menghadapi masyarakat Makkah dalam
perang Uhud. Perang yang memilukan, yang membuat pamanda tercintanya
berpulang dengan kondisi yang paling menyayat hati. Hamzah, jasadnya
dirusak oleh Quraisy. Korban dari pihak Muslim pun sangat banyak.
Alasan cinta pada keimanannya, Kashva bermaksud mengembalikan ajaran
Zardhust agar sang Fravesha tak menaklukkan tanah Persia, apalagi
meruntuhkan bangsa tersebut. Tapi di satu sisi, jauh di lubuk hati,
Kashva telah paham, sosok yang ditunggu – tunggu telah muncul di Arab.
Ia yang dijanjikan oleh Tuhan untuk menumpas segala kemaksiatan,
ketidakadilan, dan kecurangan.
Kemenangan Perang Parit lewat ide brilian seorang sahabat bernama
Salman pun menjadi bukti kebenaran Muhammad sebagai Rasulullah. Karena
di kitab Rag Weda, Indra pun membantunya. Indra yang didefiniskan
sebagai dewa hujan dan angin, yang meluluhlantakan beribu pasukan
Quraisy, pasukan yang berhasil memicu pengkhianatan Bani Quraizhah.
Di sela – sela perjalanan kaburnya, Kashva harus sambil menguak
rahasia yang memisahkannya dengan seorang gadis cerdas, Astu. Akhirnya,
dengan membawa anak Astu, Xerxes, dalam kelompok perjalanan hingga
Tibet, Kashva dibingungkan oleh dirinya sendiri. Surat – surat dari
teman diskusinya di berbagai belahan dunia mulai menyisakan tanda Tanya
besar di dadanya. Dan masih belum terjawab.
Komentar:
Menghindari kesoktahuan, Tasaro tak menggelontorkan pernyataan saat
mengisahkan perjalanan baginda Rasulullah saw. Melainkan pertanyaan,
cenderung pertanyaan yang haus akan konfirmasi dari Baginda Rasulullah.
Tasaro bak menulis surat cinta pada Muhammad putra ‘Abdullah, Lelaki
Yang Lembut Hatinya. Setiap deskripsi detail penuh dengan subyektivitas
yang tak sembarangan.
Insan yang mulia ini saja sudah pasti membuat siapapun yang
mengenangnya mencintainya. Membaca novel biografi inipun diakui mampu
membuat pembacanya tersipu malu, kesengsem, rindu pada sosok Rasulullah,
nabi terakhir, Lelaki Yang Mampu Membeli Hati lewat hatinya.
Penggambaran sosok Kashva pun mampu membawa imajinasi pembaca sampai
pada getaran hati dan kerisauan yang dialaminya. Betapa seorang penggiat
ilmu seperti Kashva dibuat bimbang oleh ilmunya. Tasaro menerka
bagaimana deskripsi cobaan bagi para pemikir dan cendekia pada zaman
nabi yang mungkin terjadi di pelosok negeri.
Tasaro memikat pembaca lewat keindahan aksaranya, jernih sastranya,
membuat berpikir untuk membaca lagi kalimat puitisnya untuk lebih
dipahami. Walau kita akan bermain dengan persepsi yang rupa – rupa
nantinya.
Maka saya nyatakan status buku ini dalam lemari koleksi buku anda adalah: high recommended.
(KIT)