• AYO BACA

    Berbagi inspirasi dari buku yang kamu baca. Kamu adalah apa yang kamu baca.

    Read More
  • Hentikan UN

    banyak permasalahan pendidikan mulai dari budaya kecurangan para pelaku pendidikan, kastanisasi mata pelajaran, mistisisme pendidikan, serta reduksi sekolah menjadi sekadar bimbingan tes.

    Read More
  • #KE8

    Kuliah virtual seputar pendidikan. Sarana berbagi gagasan dan diskusi setiap malam minggu pukul 20.00. Follow twitter dan facebook kami.

    Selengkapnya
  • Petisi Tolak TIK Dihapus

    “Anak TK dan SD saja sudah bisa internetan…” TIK / KKPI bisa integratif (terintegrasi) dengan mata pelajaran lain Pembelajaran sudah seharusnya berbasis TIK (alat bantu guru dalam mengajar), bukan TIK/KKPI sebagai Mata Pelajaran khusus yang harus diajarkan

    Read More
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

SAJAK SEONGGOK JAGUNG



Oleh : 
W.S. Rendra
Seonggok jagung di kamar 
dan seorang pemuda
 
yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu, 
sang pemuda melihat ladang;
 
ia melihat petani;
 
ia melihat panen;
 
dan suatu hari subuh,
 
para wanita dengan gendongan
 
pergi ke pasar ………..
 
Dan ia juga melihat
 
suatu pagi hari
 
di dekat sumur
 
gadis-gadis bercanda
 
sambil menumbuk jagung
 
menjadi maisena.
 
Sedang di dalam dapur
 
tungku-tungku menyala.
 
Di dalam udara murni
 
tercium kuwe jagung
Seonggok jagung di kamar 
dan seorang pemuda.
 
Ia siap menggarap jagung
 
Ia melihat kemungkinan
 
otak dan tangan
 
siap bekerja
Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar 
dan seorang pemuda tamat SLA
 
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
 
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu 
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
 
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
 
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
 
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
 
Ia melihat nomor-nomor lotre.
 
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
 
Seonggok jagung di kamar
 
tidak menyangkut pada akal,
 
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar 
tak akan menolong seorang pemuda
 
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
 
dan tidak dari kehidupan.
 
Yang tidak terlatih dalam metode,
 
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
 
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
 
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
 
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya : 
Apakah gunanya pendidikan
 
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
 
di tengah kenyataan persoalannya ?
 
Apakah gunanya pendidikan
 
bila hanya mendorong seseorang
 
menjadi layang-layang di ibukota
 
kikuk pulang ke daerahnya ?
 
Apakah gunanya seseorang
 
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
 
atau apa saja,
 
bila pada akhirnya,
 
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
 
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”


Tim, 12 Juli 1975 
Potret Pembangunan dalam Puisi

Jumat, 03 Mei 2013

Guru oh Guru - Usman Awang

Guru Oh Guru





Berburu  ke padang datar 
Dapat rusa belang kaki 
Berguru kepala ajar 
Ibarat bunga kembang tak jadi 
Dialah pemberi paling setia 
Tiap akar ilmu miliknya 
Pelita dan lampu segala
 Untuk manusia sebelum jadi dewasa.   



Dialah ibu dialah bapa juga sahabat 
Alur kesetiaan mengalirkan nasihat 
Pemimpin yang ditauliahkan segala umat
 Seribu tahun katanya menjadi hikmat.   



Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa 
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta 
Jika hari ini seorang Presiden sebuah negara 
Jika hari ini seorang ulama yang mulia 
Jika hari ini seorang peguam menang bicara 
Jika hari ini seorang penulis terkemuka 
Jika hari ini siapa sahaja menjadi dewasa;
 Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa 
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.   



Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya
 Di sebuah sekolah mewah di Ibu Kota 
Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu
 Dia adalah guru mewakili seribu buku; 
Semakin terpencil duduknya di ceruk desa
 Semakin bererti tugasnya kepada negara. 



Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, guruku
 Budi yang diapungkan di dulangi ilmu 
Panggilan keramat “cikgu” kekal terpahat
 Menjadi kenangan ke akhir hayat.   

USMAN AWANG 
1979     

Minggu, 20 Januari 2013

SAJAK SEBOTOL BIR

SAJAK SEBOTOL BIR
Oleh: W.S. Rendra
Menenggak bir sebotol,
menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan.
Membakar dupa,
mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.
Hiburan kota besar dalam semalam,
sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa!
Peradaban apakah yang kita pertahankan?

Mengapa kita membangun kota metropolitan?
Dan alpa terhadap peradaban di desa?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
Dan tidak kepada pengedaran?
Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
Akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
Kota metropolitan di sini,
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
Australia, dan negara industri lainnya.
Di manakah jalan lalu lintas yang dulu?
Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.
Jalan lalu lintas masa kini,
Mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
Adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
Pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
Bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.
Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
Tidak untuk petani,
Tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.
Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
Tanpa ada daya untuk menciptakan.
Apakah kita akan berhenti saampai di sini?
Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri?
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
Yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan
Harus senantiasa menghasilkan….
Dan akhirnya memaksa negara lain
Untuk menjadi pasaran barang-barang kita?
Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata?
Apakah pemikiran ekonomi kita
Hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme?
Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira?
Apakah kita akan hanyut saja
Di dalam kekuatan penumpukan
Yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
Terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?
Kita telah dikuasai satu mimpi
Untuk menjadi orang lain.
Kita telah menjadi asing
di tanah leluhur sendiri.
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
Dan menghamba ke Jakarta.
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
Dan menghamba kepada Jepang,
Eropa, atau Amerika.
(Potret Pembangunan dalam Puisi, Pejambon, 23 Juni 1977)

Kamis, 17 Januari 2013

SAJAK TANGAN


Oleh : 
W.S. Rendra- SAJAK TANGAN

Inilah tangan seorang mahasiswa, 
tingkat sarjana muda.
Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai,
yang terpegang anderox hostes berumbai,
Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu,
tak ada jawaban.
Aku tendang pintu,
pintu terbuka.
Di balik pintu ada lagi pintu.
Dan selalu :
ada tulisan jam bicara
yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana
dan aku keluar mengembara.
Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan
muncul di depanku.
Tanganku aku sodorkan.
Nampak asing di antara tangan beribu.
Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur,
tangan nelayan yang bergaram,
aku jabat dalam tanganku.
Tangan mereka penuh pergulatan
Tangan-tangan yang menghasilkan.
Tanganku yang gamang
tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong,
tangan pejabat,
gemuk, luwes, dan sangat kuat.
Tanganku yang gamang dicurigai,
disikat.

Tanganku mengepal.
Ketika terbuka menjadi cakar.
Aku meraih ke arah delapan penjuru.
Di setiap meja kantor
bercokol tentara atau orang tua.
Di desa-desa
para petani hanya buruh tuan tanah.
Di pantai-pantai
para nelayan tidak punya kapal.
Perdagangan berjalan tanpa swadaya.
Politik hanya mengabdi pada cuaca…..
Tanganku mengepal.
Tetapi tembok batu didepanku.
Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku.
Aku berjalan mengembara.
Aku akan menulis kata-kata kotor
di meja rektor

TIM, 3 Juli 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

Minggu, 09 Desember 2012

Sajak Anak Muda

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum.

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja?

Inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan.
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya, menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai,
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa henti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!

Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberikan pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan.
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijasah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara, kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja?
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagai bendera-bendera upacara,
sementar hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tata warna
yang ajaib dan tak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput, kita memukul dan mencakar ke arah udara.

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakkan oleh angkatan kurang ajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977
WS Rendra

Minggu, 18 November 2012

MUHAMMAD, lelaki penggenggam hujan

RESENSI

Judul           : MUHAMMAD, lelaki penggenggam hujan
Penerbi       : Bentang Pustaka
Tahun terbit : Maret 2010
Pengarang   : Tasaro GK
Tebal          : 543 halaman
Genre         : Novel biografi






Setelah sukses dengan Galaksi Kinanthi, Tasaro kembali  membuat gebrakan dengan menuliskan novel biografi manusia paling berpengaruh nomor satu sedunia versi Michael Heart, Rasulullah, Nabi Muhammad saw. Keduanya memiliki kesamaan yang mirip, yaitu ulasan keyakinan tentang agama dan romantisme yang menjadi bumbu disela - selanya.
Nabi terakhir, nabi seulurh umat manusia, mengulas beliau, menulis beliau pastilah menjadi pengalaman spiritual tersendiri. Kita sendiri memahami, betapa banyak umat manusia yang mencintainya dengan sangat, hingga kesensitifitasan akan cinta itu sendiri terkadang membahayakan pemiliknya, jika cintanya tanpa hati. Maka, tak jarang ekspresi teman – teman saya yang melihat identitas genre yang disematkan diatas judul akan menaikkan alisnya. “Biografi? Nabi Muhammad?”. Saya rasa, itulah yang membuat Tasaro sendiri menuliskan puisi tentang ini di halaman terdepan setelah identitas.

Engkau pernah begitu khawatir
ketika aku memulai proyek ini.
“Bahaya, Le. Bagaimana kalau
kamu nanti dicerca orang – orang?” tanyamu.
Kujawab begini hari ini,
“Ibu, jika kelak ada orang yang salah paham
dengan terbitnya buku ini,
aku yakin itu terjadi
karena mereka mencintai Kanjeng Rasul.
Dan percayalah Ibu,
aku menulis buku ini disebabkan alasan yang sama.”

Sinopsis:
Kashva dilanda kegalauan yang sangat. Sang Pemindai Surga kesayangan Koshrou ini mengguncang istana Persia saat upacara pemberian hadiah di musim semi. Menurut Koshrou, bukan hadiah yang Kashva tunjukkan, melainkan pernyataan yang mengguncang tahta kekuasannya. Kudeta. Ancaman terhadap pemerintah. Maka Kashva yang tadinya di elu-elukan seantero Persia, berubah menjadi buronan nomor satu di negeri penyembah api, umat nabi Zardhust tersebut.
Itu semua karena penyataan Kashva yang menuntun khalayak pada dua hal: satu, pemurnian kembali ajaran Zoroaster, artinya kembali pada kitab – kitab yang diwarisi Zardhust. Dan kedua, penerimaan kemunculan nabi baru dari tanah Arab, yang diramalkan dari kitab – kitab sebelumnya berjulukan Fravashes, Bar Nasha, Malechha Darma, Astvat-ereta, Budha Maitreya, serta Periklitos.
Dua – duanya ditolak Koshrou. Jadilah Kashva dalam pelarian. Antara pencarian sosok nabi yang dijanjikan, hingga kegalauan iman nya akan ajaran Zardhust. Dilema yang dialami oleh seseorang yang mendalami kitab – kitab Tuhan.
Disaat yang bersamaan, Rasulullah menghadapi masyarakat Makkah dalam perang Uhud. Perang yang memilukan, yang membuat pamanda tercintanya berpulang dengan kondisi yang paling menyayat hati. Hamzah, jasadnya dirusak oleh Quraisy. Korban dari pihak Muslim pun sangat banyak.
Alasan cinta pada keimanannya, Kashva bermaksud mengembalikan ajaran Zardhust agar sang Fravesha tak menaklukkan tanah Persia, apalagi meruntuhkan bangsa tersebut. Tapi di satu sisi, jauh di lubuk hati, Kashva telah paham, sosok yang ditunggu – tunggu telah muncul di Arab. Ia yang dijanjikan oleh Tuhan untuk menumpas segala kemaksiatan, ketidakadilan, dan kecurangan.
Kemenangan Perang Parit lewat ide brilian seorang sahabat bernama Salman pun menjadi bukti kebenaran Muhammad sebagai Rasulullah. Karena di kitab Rag Weda, Indra pun membantunya. Indra yang didefiniskan sebagai dewa hujan dan angin, yang meluluhlantakan beribu pasukan Quraisy, pasukan yang berhasil memicu pengkhianatan Bani Quraizhah.
Di sela – sela perjalanan kaburnya, Kashva harus sambil menguak rahasia yang memisahkannya dengan seorang gadis cerdas, Astu. Akhirnya, dengan membawa anak Astu, Xerxes, dalam kelompok perjalanan hingga Tibet, Kashva dibingungkan oleh dirinya sendiri. Surat – surat dari teman diskusinya di berbagai belahan dunia mulai menyisakan tanda Tanya besar di dadanya. Dan masih belum terjawab.

Komentar:
Menghindari kesoktahuan, Tasaro tak menggelontorkan pernyataan saat mengisahkan perjalanan baginda Rasulullah saw. Melainkan pertanyaan, cenderung pertanyaan yang haus akan konfirmasi dari Baginda Rasulullah. Tasaro bak menulis surat cinta pada Muhammad putra ‘Abdullah, Lelaki Yang Lembut Hatinya. Setiap deskripsi detail penuh dengan subyektivitas yang tak sembarangan.
Insan yang mulia ini saja sudah pasti membuat siapapun yang mengenangnya mencintainya. Membaca novel biografi inipun diakui mampu membuat pembacanya tersipu malu, kesengsem, rindu pada sosok Rasulullah, nabi terakhir, Lelaki Yang Mampu Membeli Hati lewat hatinya.
Penggambaran sosok Kashva pun mampu membawa imajinasi pembaca sampai pada getaran hati dan kerisauan yang dialaminya. Betapa seorang penggiat ilmu seperti Kashva dibuat bimbang oleh ilmunya. Tasaro menerka bagaimana deskripsi cobaan bagi para pemikir dan cendekia pada zaman nabi yang mungkin terjadi di pelosok negeri.
Tasaro memikat pembaca lewat keindahan aksaranya, jernih sastranya, membuat berpikir untuk membaca lagi kalimat puitisnya untuk lebih dipahami. Walau kita akan bermain dengan persepsi yang rupa – rupa nantinya.
Maka saya nyatakan status buku ini dalam lemari koleksi buku anda adalah: high recommended.
(KIT)

Kamis, 25 Oktober 2012

menjadi guru yang Guru


"Tanpa sebuah kepalsuan
Semua guru meyakini
Guru artinya ibadah"*
.
Bagi calon guru dan guru
Bhkan gurunya guru
Sepotong sajak itu tidaklah asing
Hanya saja maknany terasing
.
Lunturnya hakikat pendidikan
Di setiap hati guru
Tidak mungkin menjadi guru yang Guru*
.
Bgaimana mungkn guru mendidik
Jika guru tanpa sadar
Menjadikan putra putri bangsa
Sbg kaum pemuja angka
Yg kurang 1 angka, mati rasanya
.
Bgaimana mungkn guru bangga
Jika guru terlatih
Untk melatih putra putri bangsa
Sebagai penjawab soal ujian
Sedangkan bngsa ini penuh persoalan dan ujian
.
Bagaimana mungkin guru hidup untuk pendidikan
Jika guru dipaksa hdup dari pendidikan
Jika memang guru artinya ibadah
Maka tuhan lah yg sertifikasi
Agar guru tak berpaling ke materi.
.
Bgaimana mungkn guru terdidik
Jika guru samakan pendidikan dengan skolah
Guru merasa hebat di sekolah unggulan
Guru merasa tenang di kelas unggulan
Sedangkan di sekolah dan kelas terpinggir
Guru hanya mengelus dada
.
Epilog*
Kau bukan guru negeri
Kau bukan guru swasta
Kau adalah GURU BANGSA
.
Kalau saja engkau mau
Memanusiakan manusia
Membudayakan bangsa
Mengindonesiakan nusantara
.
Sekaranglah waktumu
MELAHIRKAN KEMBALI
SEBUAH INDONESIA RAYA
.
*bait sajak "melahirkan kembali indonesia raya ( sebuah litani untk guru bangsa)" karya Prof. Winarno

Selasa, 04 September 2012

Menulis Esai



oleh: Septi Setiyawati*

essai ? apa itu esai ?

pada tulisan kali ini saya ingin sedikit merangkum materi yang diberikan oleh ibu Dr.Rini Puspitaningrum,M.Biomed.

apa sih esai sebenarnya?

esai adalah ekspresi tertulis dari opini penulis yang menggabungkan antara fakta , imajinasi, pengetahuan dan perasaan.
lalu apa tujuan esai ?

sebagaimana pengertiannya tujuan esai adalah untuk mengekspresikan suatu opini dari penulisnya.
di dalam suatu esai terdapat opini dari penulisnya.
Opini sendiri memiliki pengertian yaitu 
sebuah kepercayaan yang bukan atas keyakinan yang mutlak, namun pada suatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang, yaitu penilaian.
jadi jika ada tulisan  kita jangan hanya menelan bacaan tersebut mentah mentah lalu mengikuti apa yang ada di dalamnya, namun kita harus pandai pandai memilah milih apakah tulisan tersebut merupakan opini dari penulisnya atau bukan, karena sebuah opini bisa saja tidak benar.

untuk membuat sebuah esai terdapat langkah langkah yang setidaknya harus diikuti, yaitu
  1. memilih topik

  2. menentukan tujuan penulisan esai

  3. menentukan topik tulisan

  4. potensi topik

  5. membuat outline

  6. menuliskan tesis

  7. menuliskan tubuh esai

  8. menulis paragraf pertama

  9. menuliskan kesimpulan

  10. finishing touch
dari kesekian langkah diatas menurut saya bagian yang penting adalah membuat menentukan topik,  outline dan finishing touch. tapi bagian tersebut juga merupakan hal yang tersulit yang saya lalukan. untuk memunculkan sebuah topik dibutuhkan ide ide yang terkadang sulit sekali untuk memunculkanya, apalagi saya tidak rajin membaca artikel padahal ide muncul dari sering membaca dan berdiskusi. lalu membuat outline, dalam menulis saya jarang sekali membuat outline terlebih dahulu biasanya saya langsung menuliskannya saja , dan inilah yang terkadang membuat tulisan saya lari kesana kemari atau berkembang terlalu luas. dan dalam finishing touch kita dianjurkan untuk meninggalkan naskah terlebih dahulu lalu membaca ulang, kebiasaan saya ketika sebuah tulisan saya tinggalkan pada akhirnya tulisan tersebut hanya menjadi sebuah draft yang kemudian tidak akan terbit.

sepertinya memang sulit untuk menulis sebuah esai, Ibu rini berkata bahwa untuk menulis sebuah tulisan harus memiliki panca indera yang kuat, untuk melihat hal yang tidak terlihat menjadi terlihat.
dan di akhir materi, ada sebuah slide yang bertuliskan

Don’t let the thought of putting pen to paper daunt you
GET STARTED

jadi sudah bisakah saya dan anda menuliskan esai hari ini ?
dan apakah tulisan saya ini merupakan esai ?

*Mahasiswi Pendidikan Kimia 2010 Universitas Negeri Jakarta
03 juli 2011