Ruh Hardiknas Sedang Dihardik
Posted by EduwaUNJ on 16.48
RUH HARDIKNAS SEDANG DIHARDIK
Oleh : Fadli Arridjal*
Detik-detik menjelang peringatan Hardiknas, menjadi sebuah perenungan yang menentukan bagi insan pendidikan negeri ini. Karenanya tidak sedikit yang memperingatinya dengan perayaan-perayaan absurd yang jauh dari spirit sejatinya. Namun adalah segelintir pemuda yang kemudian mendedikasikan waktunya untuk kemudian merenungkan setapak demi setapak tilas perjalanan bangsa yang 63 tahun sudah merdeka. Ternyata telah banyak yang berubah dari negeri ini. Memang bila kita melihat dari perspektif kota Jakarta, maka tampilan gemerlap kota ini seakan-akan menjadi indicator bahwa negeri ini tengah melangkah kea rah yang lebih baik.
Namun saudaraku, Indonesia terlalu sederhana apabila didefinisikan dengan sudut pandang kota Jakarta yang metropolis ini. Sesungguhnya ada tanah yang terbentang luas di luar tanah ini yang kedaulatannya sebagai bagian dari bangsa, ternyata masih begitu lemah.
Namun saudaraku, Indonesia terlalu sederhana apabila didefinisikan dengan sudut pandang kota Jakarta yang metropolis ini. Sesungguhnya ada tanah yang terbentang luas di luar tanah ini yang kedaulatannya sebagai bagian dari bangsa, ternyata masih begitu lemah.
Maka, semenjak memutuskan untuk mengambil dedikasi di Departemen Pendidikan BEM UNJ, diri ini telah mengazamkan sebuah cita-cita bahwa akan dikuak sebuah kebobrokan negeri kaya bernama Indonesia yang itu semua merupakan ekses dari terpuruknya pendidikan yang sudah tidak “berkebudayaan”.
Maka mari kita merenungkan kembali makna hardiknas yang peringatannya diperingati setiap tanggal 2 Mei yang diadopsi dari kelahiran seorang pahlawan pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Berdasarkan Kepres R.I. No. 316/1959, yaitu untuk merenungkan kembali arah pendidikan nasional sejak kelahirannya. Maka Cerminan dari pendidikan nasional pada masa lahirnya terejawantahkan dalam system yang dianut dalam sebuah organisasi yang bernama Taman Siswa. Berdasarkan hasil kongres Taman Siswa I 1923, ada 7 Asas Taman Siswa, yaitu : Mengatur diri sendiri, Tujuan pendidikan : Kemerdekaan peserta didik, Kebudayaan sendiri menghasilkan watak nasional, Pendidikan untuk rakyat banyak, Bekerja atas kekuatan sendiri, Berdiri atas kaki sendiri, dan Mengabdi sepenuhnya pada kepentingan peserta didik.
Kemudian dengan memahami sebuah konsepsi pemikiran Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tuludo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, maka Taman Siswa melaksanakan proses pembelajaran yang outputnya adalah para calon-calon pemimpin negeri yang mampu berdedikasi semaksimal-maksimalnya untuk kepentingan bangsa.
Dalam Taman Siswa dipahami bahwa Sekolah = Paguron = Rumah Guru, yang artinya sekolah dicari oleh peserta didik, berasrama (pesantrian), dan sekolah sebagai taman, yakni taman Indrya (TK), taman Muda (SD), taman Dewasa (SM), dan taman Guru. Dalam perjalanannya, Asas 1923 Taman Siswa, setelah kemerdekaan berubah menjadi Asas 1947 yang isinya adalah Pancadarma yang terdiri dari : Kodrat Alam, Kemrdekaan, Kebudayaan, Kebangsaan, Kemanusiaan. Maka ruh Taman Siswa adalah Pendidikan untuk semua rakyat, Pendidikan berdasarkan kebudayaan nasional, Pendidikan untuk kemerdekaan.
Sudahkah pendidikan negeri ini dijalankan sesuai dengan cita-cita perjuangan pada masa kelahirannya? Maka inilah yang seharusnya menjadi sebuah bahan perenungan setiap insan bangsa yang tentunya berharap agar negerinya bangkit dari keterpurukan. Bangkitlah negeriku! Harapan itu masih ada!
*)Mahasiswa Pendidikan Matematika 2006 Universitas Negeri Jakarta