Matematika, Jalan untuk Belajar Berpikir

Posted by EduwaUNJ on 15.44










      Suatu hari seorang guru matematika ditanya oleh salah satu siswa yang terkenal pintar di kelasnya. Pertanyaannya cukup mencengangkan. Siswa tersebut bertanya mengenai manfaat dari pelajaran matematika yang bertambah rumit di kelas tiga SMA. Tentu sang guru dengan sigap menjawab bahwa manfaat pelajaran matematika untuk lulus di ujian akhir kelak. Siswa yang semula antusias kini terdiam tampak tidak puas dengan jawaban guru. Sedangkan teman-temannya hanya menertawai siswa tersebut.
Tujuan pendidikan kita tampak sudah bergeser menuju persiapan ujian akhir saja. Hal ini terlihat dengan adanya pergeseran makna pelajaran matematika yang hanya melatih siswa untuk mahir berhitung. Bahkan kecepatan berhitung pun didukung dengan adanya rumus cepat. Hal ini terjadi sebagai akibat desakan dari ujian yang menentukan kelulusan.
Jika kita merunut dari sejarah perkembangan sains. Kebanyakan para ilmuwan hebat adalah seorang matematikawan. Seorang Albert Einstein merupakan salah satu ahli matematika. Bahkan ilmuwan muslim Al-Biruni selain dikenal sebagai seorang yang menguasai bidang-bidang sains, ia juga ahli matematika. Ternyata para ahli matematika tersebut bukan sekedar jago berhitung. Selama proses pendidikan mereka bukan “memepelajari tentang” matematika yang dianggap sebagai mata pelajaran khusus. Tetapi mereka menggunakan matematika sebagai media berpikir matematis untuk memecahkan masalah.
Pendidikan matematika realistik menyatakan bahwa pembelajaran matematika yang ada di sekolah pada umumnya hanyalah melatih siswa untuk berhitung bukan mendidik siswa untuk berpikir secara matematis. Proses pelatihan berhitung ini hanya mengajarkan siswa untuk berpikir prosedural sesuai dengan apa yang diajarkan gurunya. Ketika guru mengajarkan untuk memecahkan soal dengan pola A-B-C-D, maka murid hanya tahu pola pemecahan untuk soal tersebut adalah A-B-C-D, tanpa memaknai maksud dari pola itu dan mungkin saja ada pola lain untuk memecahkan soal tersebut.
Matematika merupakan sarana berpikir matematis. Inilah yang membedakan matematika dengan ilmu-ilmu yang lain. Matematika merupakan “ilmu untuk”. Pola-pola yang terjadi pada matematika bisa digunakan sebagai media pemecahan masalah. Misalnya, persamaan sinusoidal merupakan grafik yang berbentuk seperti gelombang tali yang bergetar secara berpola. Pola ini bisa digunakan dalam fisika untuk mempelajari gelombang laut, gelombang suara dan gelombang cahaya.
Siswa di sekolah sering merasakan bosan dengan rumus-rumus yang ada di pelajaran. Sebenarnya rumus-rumus tersebut adalah bahasa matematika. Bahasa matematika berupa simbolik dan numerik yang mudah dipahami oleh seluruh orang di dunia. Mungkin kita masih ingat saat di sekolah saat mempelajari logika. Logika yang dimaksud dalam matematika adalah mengubah pernyataan dalam bentuk bahasa matematika. Lambang-lambang dalam bahasa matematika yang digunakakan merupakan kespakatan bersama. Misalnya mobil menempuh jarak 30 meter dalam waktu 3 detik. Jika jarak kita sepakat lambangkan dengan x dan waktu tempuh adalah t. Sedangkan kecepatan v =x/t. Kita dapat terjemahkan kembali bahwa mobil dapat menempuh jarak 10 meter dalam satu detik.
Kemampuan berpikir matematis haruslah menjadi prioritas dalam pembelajaran matematika. Berpikir matematis merupakan kemampuan alami manusia yang bisa membuat manusia untuk bertahan hidup. Jika pendidikan mengesampingkan hal ini, maka jelas pendidikan tersebut bukanlah pendidikan yang memanusiakan. Karena menghambat perkembangan manusia untuk belajar berpikir lewat bahasa matematika.


Daftar Pustaka
 Aryadi Wijaya. 2011. Pendidikan Matematika Realistik Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta; Graha Ilmu.
S. Suriasumantri, Jujun. 1990. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.