Evaluasi Kinerja Tiga Tahun DPR (kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan rakyat)
Posted by EduwaUNJ on 14.00
-Memotret kinerja Dewan Perwakilan
Rakyat tiga tahun terakhir dari perspektif kepuasan rakyat dan efektifitas
kinerja-
Menurut jajak pendapat Kompas
tentang citra DPR di mata publik dengan 789 responden pada 4-6 Agustus 2010,
terdapat: 78,2 % responden menilai
buruk, hanya 14,6 % menilai baik dan 7,2 % menilai tidak tahu.
Sementara hasil jajak pendapat Kompas pada 30
Maret-1 April 2011 dengan 842 responden tentang kepedulian DPR terhadap kritik
menurut publik, menunjukkan: 72,3 % rersponden menilai DPR tidak perduli
terhadap kritik, 22, 9 % menilai, DPR peduli terhadap kritik, sementara 4,8 %
tidak menjawab.
Di lain pihak, hasil jajak pendapat
Kompas terakhir ini menunjukkan penilaian publik tentang keterwakilan aspirasi
DPR, yakni: 74,3% responden menilai tidak peduli dengan keterwakilan aspirasi, 20,3
% menilai peduli dan 5,4 % tidak jawab.
Hasil ini cukup untuk menunjukkan
citra DPR di mata masyarakat yang kian hari kian merosot. Kinerja DPR sampai
hari ini belum bisa menunjukkan progress yag berarti dala melaksanakan
fungsionalnya. Dewan Perwaakilan Rakyat yang diharapkan mampu mewakili dan
menjadi penyambung aspirasi rakyat malah sibuk bekerja untuk pribadi dan
kroni-kroninya. Bargaining proyek kepentingan rakyat kini berformat “wani
piro”. Pengkhianatan oleh penyelenggara negara yang seharusnya menjadi
“pengawas” tapi sekarang malah berbalik menjadi pihak yang “diawasi”. Mejadikan
Indonesia negara yang begitu boros dengan adanya komisi-komisi pengawas baru. Padahal,
jika DPR menjalankan fungsi pengawasannya dengan idealisme pancasila, akan ada
cukup anggaran yang cukup dari pengalihan ‘gaji’ tenaga komisi dan badan
pengawas lain untuk membenahi pendidikan kita yang semakin carut-marut dengan
alasan usang yang tak kunjung tertangani, yakni kurangnya anggaran kepedulian
pemerintah.
Merujuk pada kenyataan miris
perdagangan kepentingan di meja-meja DPR maka kami mengajukkan adanya
revitalisasi sistem, revitalisasi total sampai pada tingkat kaderisasi parpol.
Kaderisasi pewarisan idealisme nasionalis, bukan sekedar kaderisasi “mesin ATM
partai”. Revitalisasi kinerja perwakilan, pengawasan dan penganggaran uang
negara untuk kepentingan pembangunan dan pensejahteraan, bukan penganggaran
fiktif untuk dompet pribadi!
(WYA)
(WYA)
Categories: opini