Refleksi : Pemujaan Kompetisi

Posted by EduwaUNJ on 14.02
Gaya berpikir kompetitif sudah sangat erat melekat pada sistem persekolahan di Indonesia. Tujuan kompetisi yang di adakan untuk memicu dan memotivasi siwa agar lebih giat belajar, kini di salah artikan menjadi persaingan.  Kompetisi menjadi ajang persaingan antar para siswa. Dengan hasil akhir yang menang dan yang kalah.
Tujuan untuk mendapat dampak yang positif menjadi dampak negatif, karena siswa yang akan menang mendapat label menjadi anak yang hebat dan nomor satu karena mempunya otak yang cerdas dan bagi yang kalah, dia akan merasa bodoh, gagal, lemah dan sederet  keyakinan negatif pada dirinya .
Apalagi Kompetisi yang paling bergengsi yaitu ilmu pasti (mtematika dan ilmu pengetahuan alam)  . melihat kecenderungan lomba – lomba yang di adakan adalah ilmu pasti. Kompetisi ini mempunyai efek yang sangat besar.orang hanya memahami kecerdasan kognitif saja. Padahal setiap orang mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda seperti yang di katakan Howard Gardner.
Kecerdasan seseorang tidak bisa di batasi dengan tes tes yang formal saja. Melihat berbagai macam kompetisi yang di adakan dari sekolah, contoh yang setiap tahun kita lihat adalah menerima siswa yang memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi akan masuk sekolah favorit. Atau yang lulus ujian SNMPTN baru akan di terima di Universitas Ternama.
Seperti yang dikatakan Munif Chatib dalam buku sekolahnya manusia, kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak stastis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu bulan lagi, apalagi sepuluh tahun lagi. Dan menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Padahal, kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.
(DER)
Categories: