Refleksi Seorang Mahasiswa Saat Menjadi Siswa
Posted by EduwaUNJ on 14.05
Pagi
itu Rabu, 10 Oktober 2012 pria separuh baya masuk ke salah satu kelas dalam
lorong Jurusan Teknologi Pendidikan. Di dalamnya saya beserta beberapa teman
sudah duduk manis sekitar 15 menit sebelumnya. Pria itu mengenakan kemeja
safari ungu berfotif kotak-kotak ala gubernur DKI. Disitulah bergantung sebuah
nametag bertuliskan Cecep Kustandi, salah satu dosen di jurusan kami.
Saya
dan teman-teman kali ini lebih antusias daripada kuliah-kuliah sebelumnya.
Teman sebangku saya, Berkah Citra Azaria hingga tertegun mendengarkan celotehan
dosen. Kali ini memang sangat berbeda, Dosen mengawali kuliah dengan sebuah
pertanyaan yang cukup menekan otak. “Seandainya kalian mulai hari ini jadi
menteri pendidikan, apa yang akan kalian lakukan?”, tanya dosen berambut klimis
itu. Serentak beberapa mahasiswa mulai menggaruk-garuk kepala.
“Silahkan
kalian tulis jawaban kalian dalam secarik kertas!”, lanjutnya. Saya kemudian
menarik selembar kertas dari binder, kemudian meminjam pulpen dari salah satu
teman berperawakan putih sebut saja namanya Dyna. Kebetulan pagi itu pulpen
saya tertinggal di rumah. Kertas siap, pulpen ada. Sekarang giliran otak saya
yang berfikir apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini. Saya teringat
fotokopi Mal Education ala Indonesia. Sebenarnya fotokopian ini sudah saya
terima seminggu sebelumnya, tapi saya baru baca fotokopian saat itu dimana otak
saya mulai menguap gara-gara pertanyaan dosen yang imajiner itu. Mau gak mau ya
harus baca!
sekilas
fotokopian ini terlihat kurang menarik pada awalnya, tidak berwarrna, tidak ada
pula gambar-gambar menarik seperti komik doraemon yang sering saya baca di saat
senggang. Di tengah fotokopian tertulis di pojok kanan bawah halaman 81, ada
tulisan besar berjudul “TERASING DI SEKOLAH”.
Iseng-iseng
berhadiah saya mulai membaca kata demi kata dalam paragraf yang membosankan
ini. Jangan marah dulu ya! Memang saya orangnya paling malas membaca. Ada
kutipan yang membuat saya tertarik di halaman berikutnya, masalah pendidikan di
Indonesia adalah betapa kakunya pelajaran di sekolah, sehingga:
“Di
tempat itu saya mengetahui kalau pelajaran yang selama ini saya dapatkan
terlalu ideal untuk diterapkan dalam kehidupan nyata”
Ini
“GUE BANGET!”. CIUSS! MIAPAPUN ! Dari SD, SMP SMA saya merasakan hal itu. Sekolah
saya hanya mengkodisikan siswanya agar dapat beradaptasi dengan lingkungan
sekitar sekolah, bukan dengan lingkungan luar. Apalagi dari dulu saya sekolah
di negeri terus, super duper kaku kurikulumnya. Guru gak bisa tuh yang namanya
bikin inovasi, nanti malah dikira keluar dari jalur kurikulum. Dari dulu saya
mengidam-idamkan guru yang bisa membimbing bukan mendikte tapi sayangnya itu
tidak pernah saya temukan hingga lulus SMA.
Kutipan
singkat diatas mengingatkan saya kejadian 6 tahun lalu saat saya SMP. Pagi itu
guru menagih tugas IPA yang sudah diberikan sehari sebelumnya. Kalau tidak
salah materinya “gaya dan pesawat sederhana”. Guru Fisika tulen berbama Asep
itu menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan menuliskan rumus untuk soal
nomor 2. Jarinya menunjuk ke arah wajah saya, sayapun “terpaksa” maju dengan
keringat di jidat.
Angka,
kali bagi, dikuadratkan, dikurang, dikali lagi sama dengan dan happp munculah
hasilnya. Pak Asep mulai memakai kacamata barunya dan menelisik setiap angka
yang saya tulis di whiteboard. “Reza, kamu dapat rumus ini dari mana?”, tegur
pak Asep. “ Dari buku teman pak ditambah saya iseng utek2 sendiri, soalnya di
LKS yang biasa dipakai tidak lengkap pak”, jawab saya. Pak Asep mulai
melihat-lihat lagi apa yang saya tulis, sambil menaikan kacamata ke jidat
beliau berkata, “Isinya sudah BENAR, tapi RUMUSNYA gak sama dengan yang bapak
ajarkan”.
Padahal
saat itu RUMUS SAYA LEBIH SINGKAT daripada yang dianjurkan oleh guru itu. Dari
kenangan ini dapat saya simpulkan:
PENDIDIKAN
di INDONESIA saat ini SANGAT KAKU, siswa tidak diizinkan memodifikasi dan
mendalami apa yang sudah didapatkannya disekolah.
DERITA
berlanjut ketika saya masuk jurusan IPS saat SMA. Setiap hari kami hanya
dicekokan dengan rumus ekonomi dan teori-teori ekonomi tanpa kami tahu UNTUK APA
RUMUS ITU? Dan TEORI ITU SUDAH TERLALU MASUK AKAL, tanpa saya belajarpun saya
sudah tau teori-teori itu lewat pengalaman yang saya alami dalam kehidupan
sehari-hari.
Contohnya,
tertulis dalam buku “apabila harga naik maka permintaan akan berkurang, dan titik
impas (Equilibrium) tercapai bila pendapatan sudah menambal modal.” BUKANKAH
INI SANGAT BERBAU LOGIKA?
Menurut
guru ekonomi, SISWA AKAN SUKSES atau KAYA apabila BISA MEMPRAKTIKAN TEORI dan
RUMUS EKONOMI dengan BENAR. Padahal saya sering melihat para pengusaha sukses
yang tidak lulus SMP namun bisa membuka cabang restoran di berbagai daerah.
Catatan kedua:
“Guru
tidak melatih siswa untuk berfikir kritis, praktis, dan kreatif padahal 3 unsur
tersebut adalah kunci kesuksesan para pengusaha. Guru selalu menyajikan
teori-teori yang akhirnya hanya mengantarkan pikiran siswa agar HANYA MENJADI
SEORANG PEGAWAI.”
Kembali
ke masa sekarang, saya melanjutkan membaca fotokopi yang diberikan ketua
Education Watch UNJ itu. Salahsatu paragraf menjelaskan pendidikan di Indonesia
menganggap PELAJARAN YANG DIBERIKAN GURU lebih penting daripada PELAJARAN DALAM
KEHIDUPAN. Paradigma ini membuat saya yang mulai agak ngerti soal pendidikan
terkejut betapa MAL PRAKTEK nya pendidikan di Indonesia.
Bukan
saya sombong nih, Cuma sekedar share aja. Dulu waktu saya SMA pernah ikut OSN
Geografi walau Cuma sampai tingkat provinsi. Terlihat saat pelatihan di
sekolah, guru-guru memisahkan calon peserta OSN dengan siswa yang tidak ikut
OSN. Bahkan setiap peserta OSN saling siku-menyikut walau kami satu sekolah.
Guru
terlalu membudayakan KOMPETISI daripada KORPORASI. Hasil dari budaya ini mulai
terlihat ketika kami SMA kami dikalahkan oleh SMAN 28 Jakarta (SMA langganan
pemenang OSN). Walau SMA kami sering gugur ditingkat provinsi, namun budaya
buruk tersebut tidak pernah berubah.
Pada
suatu kesempatan saya ngobrol-ngobrol dengan salah satu siswa SMAN 28, lelaki
berkacamata slinder itu bernama Ferdinand. Ferdinand si langganan menang OSN
Fisika. Saya berusaha mengorek-orek
resep rahasia SMAN 28 punya tradisi menang OSN. Jawabannya sangat singkat:
“Kami
tuh selama pelatihan jarang banget ngerjain soal apalagi dengerin guru ceramah,
kami lebih sering diskusi antar sesama peserta. Bahkan siswa yang gak ikut OSN
juga ikut-ikut nimbrung pas pelatihan. Biasanya mereka juga memberikan ide-ide
cemerlang yang tidak terpikirkan peserta OSN”
“Beda
banget ya sama sekolah gw”, itu kalimat pertama yang terlintas di hati setelah
mendengar resep rahasia itu.
===
JREEENNNGGG kita kembali ke KELAS TEKNOLOGI PENDIDIKAN=
Setelah
bengong sekitar 15 menit, terlihat kertas didepan saya masih kosong, pak cecep
kustandi mulai menggerutu, “Lama banget sih? Kalo jadi Menteri Pendidikan tuh
harus bertindak cepat! 3 MENIT LAGI KUMPULKAN YA!!!
Akhirnya
saya menulis kebijakan seandainya saya menjadi Menteri Pendidikan Nasional:
1. Kurikulum
berbasis Konstruktivistik harus dikembangkan karena PENDIDIKAN BUKAN SEKEDAR
TRANSFER ILMU dari otak ke otak lainnya seperti transfer file pakai bluetooth.
Melainkan siswa harus dirangsang untuk mencari pengalaman belajarnya sendiri,
memahami masalah, dan memecahkannya,
2. Kita
harus membudayakan istilah seperti jargon 4SHARED, BERBAGI DAN MENGUNDUH.
Proses dalam menerima pengetahuan bukan hanya berasal dari guru, saat ini guru
dianggap adalah orang yang paling tahu daripada murid-muridnya padahal tidak
demikian. Siswa dapat mendapat ilmu dari teman-temannya. Budayakan KORPORASI
bukan KOMPETISI.
3. Pelajaran
lebih memanusiakan manusia, sesuai teori humanistik. Siswa bukan mesin yang
tugasnya untuk diprogram untuk melakukan suatu pekerjaan. Siswa harus
dikembangkan kreatifitasnya dengan program pengembangan minat dan bakat. (MRN)